Perbedaan Cara Pandang Perempuan dan Laki-laki Dalam Komunikasi

Kamis, 06 Desember 2012

Perbedaan Cara Pandang Perempuan dan Laki-laki Dalam Komunikasi

Oleh : Anak Agung Rai Kartini,SSos.M.Si

Komunikasi merupakan bagian sentral dari kehidupan kita, sebagian besar kita menghabiskan antara 50 sampai 75 persen hari-hari kita berkomunikasi secara tertulis, tatap muka, dalam kepala kita atau melalui telepon, berkat komunikasi kita dapat banyak mencapai tujuan dan ambisi kita. Komunikasi adalah perjalanan yang tak pernah usai dari suatu penemuan, dari diri kita dan dari orang lain. Kita bisa menyaksikan diri kita dan orang-orang disekitar kita berkomunikasi setiap hari dan terus belajar bagaimana berkomunikasi dengan jelas, sukses dan elegan.

� begitu manusia menginjakkan kaki di bumi, komunikasi menjadi faktor tunggal terbesar yang menentukan jenis hubungan apa yang dilakukannya dengan orang lain dan apa yang terjadi padanya� (Virginia Satir,1916)

Dalam masalah komunikasi, perbedaan cara pandang antara pria dan perempuan ditegaskan dengan perkataan MEN from mars, WOMEN from venus. Hampir semua prilaku pria dan wanita berbeda, contohnya,seperti apa yang disampaikan rekan kerja pria bisa jadi di interpretasikan lain oleh rekan kerja perempuannya. Begitu juga sebaliknya. Nah, jika masing-masing memahami bahwa lawan jenis memiliki strategi dan gaya komunikasi yang berbeda. Yang diperlukan hanyalah mengerti dan memahami maksud dari kata-kata yang disampaikannya. Beberapa contoh perbedaan yang harus dipahami oleh pria dan wanita :

A. Perilaku Perempuan:
1. Menuntut Kesetaraan.
Kaum perempuan selalu peduli tentang efek yang terjadi jika tidak ada kesetaraan. Mereka ingin agar semua orang merasa menjadi karyawan yang dihargai. Sementara, kaum pria melihat hal ini sebagai bentuk ketidakpercayaan kaum perempuan terhadap kinerja dan kredibilitasnya. Menurut Beth Banks Cohn dan Roz Usheroff, kaum perempuan merasa yakin bahwa kekuatan bisa tercipta jika ada kolaborasi yang baik antar karyawan, dan kaum pria harus belajar dari hal ini. Meski begitu, kaum perempuan yang menjadi pimpinan juga harus bisa bijaksana dalam menjalankan kekuasaannya dan mempertimbangkan segala hal berdasarkan prestasi karyawan.

2. Lambat Bertindak.
Sebelum mengambil keputusan, kaum perempuan selalu ingin melihat dari berbagai sisi terlebih dahulu, termasuk memastikan bahwa semua orang sudah mengerti akan tugasnya masing-masing. Adapun pria yang punya pola pikir sebaliknya merasa bahwa perilaku ini membuat perempuan terlihat lamban dan kurang kritis dalam menggunakan kekuasaannya. Jika dilihat dari sisi objektif, sangat penting untuk teliti sebelum memberikan suatu keputusan. Namun, tentu saja tak semua keputusan bisa memuaskan semua orang. Karena itulah, dalam hal ini, perpaduan antara pola pikir pria dan perempuan menjadi suatu jalan keluar terbaik.

3. Tak suka melecehkan.
Kaum perempuan tidak suka melecehkan ide atau kerja rekan kerjanya. Namun, kaum pria menilai perilaku ini sebagai tanda kalau kaum perempuan tidak percaya diri dan lemah. Secara objektif, para ahli menilai bahwa mengkritik secara moderat dan tidak mempermalukan di depan umum adalah kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin. Tapi, jika ia selalu menyetujui atau enggan mengkritik orang lain, ini juga bisa menjadi sebuah tanda bahwa ia orang yang lemah. Karena itu, carilah jalan tengah.

B. Perilaku Pria:
1. Berbicara negatif dan intimidatif.
Pria sering bercanda dengan nada yang negatif atau sering merendahkan orang lain dengan tujuan membuat diri mereka sendiri sebagai orang yang hebat. Sementara, perempuan menganggap kebiasaan para pria ini sebagai sesuatu yang arogan dan penuh intimidasi. �Jika dilihat secara objektif, mencela atau berbicara �sampah� tidak membahayakan, selama kedua belah pihak sama-sama melakukannya. Bahkan, �kegiatan� ini kadang kala bisa menyatukan mereka dalam menyelesaikan suatu pekerjaan,� ujar Beth Banks Cohn, PhD, seperti dikutip dari Careerbuilder.com.

2. Enggan bertanya.
Kaum pria sering kali enggan bertanya saat ada sebuah penugasan. Hal tersebut terjadi karena mereka takut dianggap tidak tahu akan suatu hal. Padahal, kaum pria menganggap bahwa pengetahuan erat kaitannya dengan kekuasaan. Sementara, kaum perempuan menganggap hal ini sebagai tindakan yang kekanak-kanakan, bahkan arogan. Mereka juga melihat kebiasaan ini sebagai suatu hal yang membuang-buang waktu mengingat akan lebih efektif jika mereka bertanya kemudian langsung bertindak. �Beberapa perusahaan memang memiliki budaya yang meminimalkan pertanyaan dan membuat mereka kurang nyaman jika bertanya terlalu banyak. Sementara, dalam sebuah rapat atau kondisi tertentu yang mengharuskan semua orang memiliki visi yang sama, maka semua orang baik pria maupun perempuan harus sering bertanya,� tegas Roz Usheroff, coauthor buku Taking the Leap: Managing Your in Turbulent Times� and Beyond.

3. Pelit Pujian.
Karena kaum pria tidak mengincar sebuah pujian, maka mereka juga jarang memuji. Selain karena menganggap pujian membuat kerja seseorang tidak efektif, mereka juga tidak suka dikritik. Sementara kaum perempuan menganggap bahwa kaum pria tidak menghargai kerja keras mereka dan terlalu kritis memberikan penilaian. Mereka bahkan menganggap perilaku ini sebagai bagian untuk menghambat pemberian promosi atau proyek besar kepada kaum perempuan. Bagaimana menurut penilaian para ahli? Menurut mereka, pujian seharusnya menjadi budaya perusahaan, baik pria maupun perempuan membutuhkannya demi meningnkatkan kinerja dan produktivitas mereka.

Kunci untuk melakukan komunikasi dengan lawan sebenarnya hanya satu, yaitu jangan pernah menghakimi. Lebih baik amati perilakunya, kemudian analisis apakah perbedaan tersebut terjadi karena perbedaan cara pandang lawan jenis. Kemudian, lakukan komunikasi berbasis saling pengertian.